Gunung Anak Krakatau Mengalami Erupsi Beruntun dan Erupsi Strombolian Menerus, BPBD Lampung Selatan Imbau Masyarakat Tetap Waspada.
Gunung Anak Krakatau Mengalami Erupsi Beruntun dan Erupsi Strombolian Menerus, BPBD Lampung Selatan Imbau Masyarakat Tetap Waspada.
KALIANDA, LAMPUNG SELATAN — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan melalui Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan mengimbau masyarakat pesisir untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan menyusul peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) sepanjang hari Jumat, 4 September 2026.
Berdasarkan rekaman data resmi Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau (PVMBG - KESDM), Gunung Anak Krakatau yang berada pada Status Level III (Siaga) mencatatkan serangkaian aktivitas erupsi sejak dini hari hingga menjelang tengah malam.
Rekapitulasi Detil Aktivitas Erupsi (4 September 2026)
Sepanjang Jumat (4/9/2026), tercatat secara kumulatif sedikitnya 11 kali letusan/erupsi signifikan dengan rincian rentetan kejadian sebagai berikut:
1. Periode Erupsi Dini Hari hingga Pagi Hari (5 Kejadian Erupsi/Letusan)
- 04:11 WIB: Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 33 mm dan durasi \pm 14 detik (tinggi kolom abu tidak teramati).
- 04:19 WIB: Erupsi dengan amplitudo maksimum 60 mm dan durasi \pm 24 detik (tinggi kolom abu tidak teramati).
- 04:28 WIB: Erupsi dengan amplitudo maksimum 70 mm dan durasi \pm 31 detik (tinggi kolom abu tidak teramati).
- 05:46 WIB: Erupsi visual teramati dengan tinggi kolom abu \pm 300 meter di atas puncak (\pm 457 m dpl). Kolom abu berwarna hitam dengan intensitas tebal condong ke arah barat dan barat laut. Amplitudo maksimum 70 mm, durasi \pm 27 detik.
- 00:00–06:00 WIB (Akumulasi Visual): Teramati total 6 kali letusan secara visual pada periode pengamatan pagi, dengan tinggi asap mencapai 300 meter dan teramati sinar api di puncak kawah.
2. Periode Dinamika Kegempaan Siang hingga Sore Hari
Meskipun tidak teramati letusan visual besar pada rentang siang (06:00–18:00 WIB), tercatat lonjakan aktivitas kegempaan yang mengindikasikan pergerakan magma:
- 06:00–12:00 WIB: Terekam 19 kali Hembusan, 34 kali Tremor Harmonik (amplitudo hingga 84 mm), 14 kali Low Frequency, dan 36 kali gempa Hybrid/Fase Banyak.
- 12:00–18:00 WIB: Terekam 12 kali Hembusan, 18 kali Tremor Harmonik, 9 kali Low Frequency, 6 kali gempa Hybrid, serta 1 kali gempa Vulkanik Dalam (S-P = 3,1\text{ detik}).
3. Periode Erupsi Strombolian Malam Hari (5 Kejadian Erupsi Utama)
Pada malam hari, tipe erupsi berubah menjadi Letusan Strombolian yang memancarkan lontaran pijar:
- 22:03 WIB: Erupsi Strombolian, amplitudo maksimum 19 mm, durasi \pm 29 detik.
- 22:11 WIB: Erupsi Strombolian Tinggi, amplitudo maksimum 70 mm, durasi \pm 40 detik.
- 22:42 WIB: Erupsi Strombolian, amplitudo maksimum 70 mm, durasi \pm 56 detik.
- 22:53 WIB: Erupsi Strombolian, amplitudo maksimum 70 mm, durasi \pm 40 detik.
- 23:07 WIB: Erupsi Strombolian Menerus, terekam amplitudo maksimum 70 mm dengan durasi mencapai lebih dari 7 menit 25 detik dan masih berlangsung saat laporan diterbitkan.
Menanggapi eskalasi aktivitas tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lampung Selatan, Maturidi, S.H., menegaskan bahwa seluruh personel penanggulangan bencana telah disiagakan untuk memantau situasi secara real-time.
"Melihat intensitas letusan Gunung Anak Krakatau yang meningkat sejak Jumat dini hari hingga malam ini, kami dari BPBD Lampung Selatan menyiagakan penuh Tim Pusdalops dan relawan di sepanjang pesisir Kalianda dan sekitarnya. Kami mengimbau warga pesisir tidak panik namun tetap waspada. Kunci keselamatan kita adalah mematuhi radius aman yang ditetapkan PVMBG," tegas Maturidi.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Lampung Selatan, Erwan Fatriansyah, S.E., M.M., memaparkan secara detil aspek pemetaan potensi ancaman dan langkah mitigasi yang sedang dijalankan oleh pihaknya.
"Berdasarkan evaluasi data PVMBG, saat ini potensi ancaman bahaya erupsi Gunung Anak Krakatau difokuskan pada lontaran material pijar, aliran lava, serta paparan abu vulkanik tebal yang bergerak mengikuti arah angin ke barat dan barat laut. Ombak laut saat ini masih terpantau tenang, namun kesiapsiagaan mitigasi bencana terus kami perketat," ujar Erwan.
"Kami tegaskan kembali kepada seluruh masyarakat, nelayan, maupun wisatawan agar tidak mendekati G. Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius zona bahaya 3 kilometer dari kawah aktif. Kami dari Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan juga terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunungapi di Pasauran/Hargopulis serta jajaran aparat desa pesisir guna memastikan jalur evakuasi dan sistem peringatan dini dalam kondisi siap guna," tambahnya.
Potensi Bahaya & Rekomendasi Resmi
- Radius Bahaya: Dilarang keras melakukan aktivitas pelayaran, perikanan, pariwisata, atau pendakian dalam radius 3 km dari kawah aktif G. Anak Krakatau.
- Ancaman Abu Vulkanik: Sebaran abu vulkanik tebal condong bergerak ke arah Barat – Barat Laut. Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan diimbau menggunakan masker guna menghindari gangguan pernapasan (ISPA).
- Masyarakat Pesisir: Diimbau untuk hanya mempercayai informasi resmi dari PVMBG, Badan Geologi, KESDM, serta BPBD Kabupaten Lampung Selatan, dan tidak terpengaruh oleh isu hoaks yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB)
BPBD Kabupaten Lampung Selatan
Layanan Darurat/WhatsApp: 0823-5892-4600