ERUPSI MENERUS GUNUNG ANAK KRAKATAU SONTARKAN LAVA FOUNTAIN DAN ABU VULKANIK SANGAT TINGGI.
ERUPSI MENERUS GUNUNG ANAK KRAKATAU SONTARKAN LAVA FOUNTAIN DAN ABU VULKANIK SANGAT TINGGI, BPBD KABUPATEN LAMPUNG SELATAN IMBAU MASYARAKAT TETAP TENANG DAN WASPADA
KALIANDA, LAMPUNG SELATAN (5 September 2026) — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan melalui Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan merilis laporan resmi terkini terkait peningkatan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda.
Berdasarkan data Volcanic Activity Report (MAGMA-VAR) Kementerian ESDM, Badan Geologi, PVMBG Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau, serta laporan khusus Nomor: 1512.Lap/GL.03/BGL/2026, Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Tingkat Aktivitas Level III (Siaga).
Erupsi menerus tercatat berlangsung sejak Jumat malam, 4 September 2026 pukul 23:07 WIB, dan terus berlanjut hingga Sabtu, 5 September 2026. Fenomena ini didominasi oleh tipe erupsi Lava Fountain (air mancur lava) yang disertai suara dentuman keras, gemuruh beruntun, lontaran batu pijar, hingga aktivitas petir vulkanik (volcanic lightning) di sekitar kawah.
Detail Aktivitas Pengamatan Teknis & Geofisika
-
Pengamatan Visual & Kamera Pengawas:
- Teramati fenomena lava fountain menyala terang secara menerus pada malam hari.
- Kamera CCTV pengamatan di lapangan (CCTV Lava93) dilaporkan terputus (OFF) akibat terkena paparan lontaran material pijar.
- Pengamatan Satelit Himawari dan Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin mencatat sebaran kolom abu vulkanik membumbung tinggi hingga ketinggian FL480 (±14,6 km / 48.000 kaki) di atas permukaan laut. Sebaran abu dominan bergerak ke arah Barat hingga Barat Daya mengikuti pola angin di lapisan atmosfer atas.
-
Kegempaan & Suara Dentuman:
- Terkam satu kali gempa Letusan/Erupsi menerus dengan amplitudo maksimum 70 mm dan durasi mencapai 21.600 detik (6 jam penuh dalam satu periode pengamatan 00:00–06:00 WIB).
- Suara dentuman keras dan getaran dirasakan hingga wilayah pesisir Lampung, Banten, bahkan meluas sampai wilayah Bandung, Jawa Barat. Fenomena dentuman jarak jauh ini dipicu oleh pembelokan (refraksi) gelombang suara frekuensi rendah di lapisan atmosfer atas.
Analisis Potensi Bahaya & Evaluasi Tsunami
Badan Geologi menegaskan bahwa pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca-erupsi dan tsunami 22 Desember 2018 saat ini masih relatif kecil. Oleh karena itu, kondisi erupsi saat ini tidak berpotensi mengalami keruntuhan tubuh gunung dalam skala besar yang dapat memicu tsunami.
Potensi Bahaya Utama Saat Ini:
- Lontaran batu pijar, awan panas, dan aliran lava meluncur di area sekitar tubuh gunung.
- Hujan abu vulkanik lebat yang berpotensi berdampak pada wilayah pesisir Lampung Selatan dan Banten.
- Gangguan jalur penerbangan udara di Selat Sunda akibat abu vulkanik di ketinggian tinggi (FL480).
Dalam wawancara langsung bersama tim media, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lampung Selatan, Maturidi, S.H., didampingi Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Lampung Selatan, Erwan Fatriansyah, S.E., M.M., memberikan pernyataan dan penekanan tegas terkait langkah penanganan di lapangan:
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lampung Selatan, Maturidi, S.H.:
"Kami mengimbau seluruh warga Kabupaten Lampung Selatan, khususnya yang bermukim di sepanjang pesisir Selat Sunda dari Rajabasa hingga Katibung, agar tetap tenang dan tidak panik. Erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini memang tercatat menerus dan mengeluarkan dentuman yang cukup keras, namun tim Pusdalops BPBD terus bersiaga penuh selama 24 jam berkoordinasi dengan PVMBG dan BMKG.
Perlu kami tegaskan bahwa erupsi gunung api tidak serta-merta menimbulkan tsunami. Berdasarkan evaluasi Badan Geologi, morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini belum berpotensi memicu longsoran fatal ke laut. Oleh sebab itu, masyarakat jangan terpengaruh oleh isu-isu bohong (hoaks) atau video-video lama yang disebar di media sosial. Tetap pantau informasi resmi dari BPBD, BMKG, dan PVMBG."
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Lampung Selatan, Erwan Fatriansyah, S.E., M.M.:
"Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan telah menyiagakan personil di titik-titik rawan dan terus memantau arah sebaran abu vulkanik via satelit. Saat ini sebaran abu di lapisan atmosfer atas mengarah ke Barat. Namun, untuk mengantisipasi potensi turunnya hujan abu tipis hingga sedang di wilayah daratan, kami mengimbau masyarakat untuk:
- Menggunakan masker dan kacamata pelindung saat beraktivitas di luar rumah.
- Menutup penampungan air bersih dan makanan agar tidak terpapar abu vulkanik.
- Mematuhi secara mutlak zona bahaya radius 3 km dari kawah aktif GAK. Nelayan, kapal wisata, maupun nelayan tradisional dilarang keras mendekati kawasan tersebut.
Kami memohon kerja sama seluruh elemen masyarakat untuk mengutamakan keselamatan dan segera menghubungi nomor darurat Pusdalops BPBD Lampung Selatan jika memerlukan bantuan teknis kesiapsiagaan."
REKOMENDASI KESELAMATAN KEPADA MASYARAKAT
- Dilarang Masuk Radius 3 KM: Masyarakat, wisatawan, pendaki, dan nelayan dilarang mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif.
- Kesiapsiagaan Abu Vulkanik: Gunakan masker penutup hidung dan mulut serta lindungi mata jika beraktivitas di luar ruangan.
- Penerbangan & Pelayaran: Maskapai penerbangan serta operator kapal penyeberangan diimbau mematuhi advis keselamatan dari otoritas penerbangan sipil dan Syahbandar.
- Hindari Hoaks: Gunakan hanya kanal informasi resmi dari PVMBG/MAGMA Indonesia, BMKG, dan BPBD Kabupaten Lampung Selatan.
Dikeluarkan oleh:
Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan
Pusdalops PB BPBD Kabupaten Lampung Selatan
Layanan Darurat / WhatsApp: 0823-5892-4600