Erupsi Beruntun Gunung Anak Krakatau: BPBD Lampung Selatan Rilis Laporan Evaluasi Terpadu dan Status Siaga.
Erupsi Beruntun Gunung Anak Krakatau: BPBD Lampung Selatan Rilis Laporan Evaluasi Terpadu dan Status Siaga.
KALIANDA (27 Agustus 2026) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan melalui Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan merilis evaluasi terpadu aktivitas Gunung Anak Krakatau. Laporan ini menggabungkan hasil evaluasi berkala PVMBG Badan Geologi periode 15–21 Agustus 2026 (Surat No. 1437.Lap/GL.03/BGL/2026) dengan pemantauan aktivitas harian intensif sepanjang Kamis (27/8/2026).
Laporan Komprehensif Evaluasi Terpadu Aktivitas Gunung Anak Krakatau
1. Analisis Tren Aktivitas Berkala (Periode 15–21 Agustus 2026)
- Pengamatan Visual & Satelit: Teramati kepulan asap kawah berwarna putih-hitam tinggi 5–400 m di atas kawah. Pemantauan Satelit Sentinel mengidentifikasi adanya sinar api sejak 21 Agustus 2026, anomali panas (5–39 N pix), serta emisi gas \text{SO}_2 dalam kisaran 59,1–714,7 ton per hari.
- Pengamatan Deformasi & RSAM: Data tiltmeter Stasiun Kras dan Tanjung mencatat inflasi skala rendah pada komponen Y. Energi aktivitas vulkanik (RSAM) sempat melonjak pada 16–18 Agustus 2026.
- Kegempaan Periodik: Terekam 27 kali gempa Letusan, 117 kali gempa Hembusan, 101 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, 35 kali gempa Harmonik, 11 kali gempa Low Frequency, dan 21 kali Tremor Menerus.
2. Rekapitulasi Erupsi & Dinamika Harian (27 Agustus 2026)
- Erupsi Dini Hari (00:25 WIB): Letusan terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 55 mm dan durasi ±32 detik. Tinggi kolom erupsi ±400 m di atas puncak (±557 m mdpl) berwarna kelabu-hitam tebal condong ke barat laut, disertai erupsi tipe strombolian.
- Periode 00:00–06:00 WIB: Teramati 3 kali letusan visual (tinggi 400 m). Terekam 3 kali gempa Letusan (amplitudo 52–58 mm, durasi 27–32 detik), 6 kali gempa Low Frequency (amplitudo 10–29 mm), 5 kali gempa Hybrid/Fase Banyak (amplitudo 16–48 mm), dan Tremor Menerus (amplitudo dominan 2 mm). (Penyusun: Deny Mardiono, A.Md.)
- Periode 06:00–12:00 WIB: Asap kawah berwarna putih-kelabu tinggi 50–200 m. Terekam 8 kali gempa Hembusan (amplitudo 4–7 mm, durasi 27–55 detik), 5 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, serta Tremor Menerus (amplitudo dominan 1 mm). Ombak laut tenang. (Penyusun: Rioboniek Situmorang)
- Erupsi Sore Hari (17:30 WIB): Terjadi erupsi dengan tinggi kolom abu ±150 m di atas puncak (±307 m mdpl) berwarna kelabu condong ke barat dan barat laut (amplitudo maks 14 mm, durasi ±13 detik).
- Periode 12:00–18:00 WIB: Teramati 1 kali letusan visual (tinggi 150 m). Kegempaan mencatat 1 kali gempa Letusan/Erupsi, 10 kali gempa Hybrid/Fase Banyak (amplitudo 3–6 mm), 4 kali gempa Hembusan, 4 kali gempa Low Frequency, serta Tremor Menerus (amplitudo dominan 1 mm). (Penyusun: Anggi Nuryo Saputro, A.Md.)
Saat ini Gunung Anak Krakatau berada pada Status Level III (Siaga).
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lampung Selatan, Maturidi, S.H., mengonfirmasi kesiapsiagaan jajaran kebencanaan di sepanjang wilayah pesisir.
"Hasil penggabungan data evaluasi mingguan dan laporan harian ini menunjukkan aktivitas vulkanik masih berlangsung dinamis. Namun, kami minta masyarakat di wilayah pesisir pantai Lampung Selatan untuk tetap tenang dan tidak terpancing oleh isu-isu hoaks seputar ancaman tsunami. Ombak laut di wilayah Selat Sunda hingga sore ini teramati tenang. Selalu verifikasi informasi hanya melalui kanal resmi BPBD dan PVMBG," tegas Maturidi.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Lampung Selatan, Erwan Fatriansyah, S.E., M.M., merinci hasil evaluasi teknis serta peta potensi ancaman bahaya vulkanik.
"Dari gabungan data kegempaan magmatik dangkal dan deformasi tiltmeter, menyimpulkan bahwa dinamika magma Gunungapi Anak Krakatau di bagian permukaan masih sangat fluktuatif dan tinggi, sehingga probabilitas letusan lanjutan masih tinggi.
Potensi ancaman bahaya utama saat ini berasal dari lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat. Jika intensitas dan kekuatan letusan meningkat, terdapat potensi ancaman bahaya aliran lava maupun awan panas. Oleh karena itu, rekomendasi mutlak kami tegaskan: Masyarakat, nelayan, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki dilarang keras mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius aman 3 km dari kawah aktif," terang Erwan.
LAYANAN INFORMASI & KONTAK DARURAT KEBENCANAAN
Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan
Pusdalops PB BPBD Kabupaten Lampung Selatan
- Alamat: Jl. Stadion Jati Rukun No. 16, Way Lubuk, Kalianda
- Kontak Darurat / Call Center: 0823-5892-4600